Skip to content
Centrovirginia
Menu
  • Home
  • Bisnis
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Teknologi
  • Wisata
Menu

Kemiskinan di Indonesia: Perbedaan Data BPS dan Bank Dunia 

Posted on Mei 2, 2025Mei 2, 2025 by xa7mk

Kemiskinan menjadi salah satu isu utama pembangunan di Indonesia. Namun, publik sering kebingungan ketika melihat perbedaan angka kemiskinan yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Dunia. Mengapa kedua lembaga ini memberikan data yang berbeda? Apa yang memengaruhi perhitungannya? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.


1. Perbedaan Garis Kemiskinan BPS vs Bank Dunia

a. BPS: Garis Kemiskinan Nasional

BPS menggunakan Garis Kemiskinan Nasional yang dihitung berdasarkan:

  • Kebutuhan dasar makanan (2.100 kalori/hari)
  • Kebutuhan non-makanan (sandang, papan, pendidikan, kesehatan)
  • Variasi harga di tiap provinsi

Pada Maret 2023, BPS mencatat garis kemiskinan Rp 535.547 per kapita/bulan. Artinya, penduduk dengan pengeluaran di bawah angka tersebut dikategorikan miskin.

b. Bank Dunia: Garis Kemiskinan Internasional

Bank Dunia menggunakan standar global:

  • $2,15 per hari (PPP 2017) untuk kemiskinan ekstrem
  • $3,65 per hari untuk lower-middle income countries
  • $6,85 per hari untuk upper-middle income countries

Dengan kurs PPP (Purchasing Power Parity), Bank Dunia menilai kemampuan beli masyarakat Indonesia berbeda dengan BPS.


2. Mengapa Angka Kemiskinan Berbeda?

a. Perbedaan Metodologi

  • BPS menyesuaikan dengan kondisi lokal, sementara Bank Dunia memakai patokan global.
  • BPS menghitung kemiskinan absolut, sedangkan Bank Dunia juga mempertimbangkan ketimpangan.

b. Penyesuaian Daya Beli (PPP)

Bank Dunia mengonversi pendapatan ke paritas daya beli (PPP), sementara BPS menggunakan nilai rupiah aktual.

c. Cakupan Data

  • BPS mengandalkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).
  • Bank Dunia menggabungkan data BPS dengan indikator global seperti ketimpangan dan akses layanan dasar.

3. Dampak Perbedaan Data

Perbedaan ini memengaruhi:
✅ Kebijakan pemerintah – BPS jadi acuan utama program sosial seperti PKH dan BLT.
✅ Investasi asing – Bank Dunia memengaruhi persepsi investor tentang risiko ekonomi Indonesia.
✅ Target SDGs – Pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan bergantung pada acuan mana yang dipakai.


4. Mana yang Lebih Akurat?

Tidak ada yang “salah”, karena:
🔹 BPS lebih relevan untuk kebijakan nasional karena menangkap kondisi riil masyarakat.
🔹 Bank Dunia berguna untuk perbandingan global dan analisis makroekonomi.


Kesimpulan

Perbedaan data kemiskinan BPS dan Bank Dunia terjadi karena perbedaan metodologi, garis kemiskinan, dan tujuan pengukuran. Pemerintah Indonesia menggunakan data BPS untuk program penanggulangan kemiskinan, sementara Bank Dunia membantu membandingkan kemajuan Indonesia dengan negara lain.

Dengan memahami perbedaan ini, kita bisa lebih kritis dalam membaca data dan mendorong kebijakan yang tepat sasaran.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Langit Iran-Israel Kosong Juni 2025: Maskapai Alihkan Rute
  • Tingwe vs Rokok Kretek: Mengapa Bisnis Sigaret Semakin Redup?
  • Diskon Tarif Listrik 50% Juni-Juli: Cek Daftar Pelanggan
  • 8 Negara Paling Berpendidikan di Dunia: Apa Indonesia masuk?
  • Kejayaan Nvidia Runtuh Seketika Akibat Petaka Trump
©2026 Centrovirginia | Design: Newspaperly WordPress Theme